1.
Analisis pendapatan Nasional dengan perekonomian tertutup
sederhana dua sector
Pendapatan Nasional dengan
Perekonomian Tertutup Sederhana Dua Sektor adalah Produk Nasional Neto
dikurangi pajak tak langsung ditambah subsidi . Jumlah inilah yang diterima
faktor produksi yang dimiliki penduduk suatu negara. Pendapatan Nasional dengan
Perekonomian Tertutup Sederhana Dua Sektor merupakan penjumlahan dari lima hal
, yaitu
a. Upah atau gaji yang diterima buruh atau
karyawan
b. Pendapatan dari seseorang yang melakukan
bisnis individu (bukan perusahaan)
c. Keuntungan
perusahaan
d. Pendapatan bunga selisih dari perusahaan
e. Pendapatan sewa
2.
Model analisis dengan variable investasi, tabungan
Model Analisis dengan variabel investasi tabungan adalah
pengeluaran yang akan digunakan untuk memproduksi barang dan jasa yang lebih
banyak lagi , atau dengan kata lain merupakan pengeluaran yang ditambahkan
kepada komponen-komponen barang modal .
Tujuan dari pelaksanaan model analisis dengan variabel
investasi tabungan ini adalah mencari keuntungan di kemudian hari melalui
pengoperasiaan mesin dan pabrik .
Analisis
keuangan pemerintah biasanya mencakup 4 aspek sebagai berikut, yaitu :
1. Operasi keuangan pemerintah dalam hubungan dengan defisit
/ surplus anggaran dan sumber-sumber pembiayaannya;
2. Dampak operasi keuangan pemerintah terhadap kegiatan
sektor riil melalui pengaruhnya terhadap Pengeluaran Konsumsi dan Pembentukan
Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB) pemerintah;
3. Dampak rupiah operasi keuangan pemerintah atau pengaruh
operasi keuangan pemerintah terhadap ekspansi bersih pada jumlah uang yang
beredar;
4. Dampak Valuta Asing operasi keuangan pemerintah atau
pengaruh operasi keuangan pemerintah terhadap aliran devisa masuk bersih.
Terdapat
sumber data untuk memperkirakan Investasi dan Tabungan Nasional, yaitu
·
data Produk Domestik
Bruto atas dasar harga berlaku menurut penggunaan
·
Neraca Arus Dana yang
digunakan oleh tim gabungan B.P.S., Bank Indonesia, dan Departemen Keuangan.
Dalam menganalisis pertumbuhan Produk Domestik Bruto terlihat
adanya kecenderungan untuk lebih menggunakan data Produk Domestik Bruto menurut
penggunaan. Kalau kita menganggap bahwa perkiraan Investasi dan Tabungan
Nasional Bruto yang dihasilkan oleh Tim Gabungan B.P.S., Bank Indonesia, dan
Departemen Keuangan lebih mendekati kebenaran, maka seyogyanya data statistik
Produk Domestik Bruto menurut penggunaan yang dipublikasikan oleh B.P.S. perlu
diperbaiki.
3.
Angka Pengganda
Angka pengganda menggambarkan perbandingan diantara
jumlah pertambahan/pengurangan dalam pendapatan nasional dengan jumlah
pertambahan/pengurangan dalam pengeluaran agregat yang telah menimbulkan
perubahan dalam pendapatan nasional.
Pendapatan
nasional berubah sebagai akibat dari perubahan nilai komponen, yaitu:
a) Investasi
b) Konsumsi
c) Pengeluaran pemerintah
d) Eksport dan import.
Perubahan pendapatan agregat sama dengan perubahan
konsumsi ditambah perubahan investasi . karena perubahan konsumsi tergantung
pada perubahan dalam investasi, kita dapat menghapus konsumsi dari persamaan.
Perubahan dalam pendapatan agregat sama dengan pengganda investasi kali
perubahan investasi. Multiplier investasi berkaitan dengan kecenderungan
mengkonsumsi marjinal: kecenderungan marjinal mengkonsumsi adalah 1 dikurang
(satu dibagi dengan pengganda investasi).
Dalam
D berikut menunjukkan perubahan; C = konsumsi; MPC = kecenderungan mengkonsumsi
marjinal; I = investasi; Y = pendapatan; k = investasi penggali).
DC
= MPC (DY), perubahan dalam konsumsi sama dengan kecenderungan mengkonsumsi
marjinal kali erubahan pendapatan)
DY
= kDI, perubahan pendapatan sama dengan pengganda investasi kali perubahan
investasi
DY
= DC + DI, perubahan pendapatan juga sama dengan perubahan konsumsi ditambah
perubahan investasi
Oleh Karena itu, pengganda investasi kali perubahan
investasi sama dengan kecenderungan mengkonsumsi marjinal kali pengganda
investasi kali perubahan investasi, lebih jelasnya:
kDI
= MPC (kDI) + DI kDI – MPC
(kDI)
= DI kDI (1 – MPC) = DI
1
– MPC = 1 / k
MPC
= 1 -1 / k
Fungsi
investasi otonomus berubah menjadi I1 = 250, Konsumsi = 100 dan MPC = 100 +
0,8, sehingga pengeluaran agregat juga berubah menjadi: AE1 = C + I1 = 100 +
0,8Y + 250 = 350 + 0,8Y Output keseimbangan yang baru (Y1) adalah : Y = AE =
350 + 0,8Y1 0,2Y1 = 350 Y1 = 1750 DY = Y1 – Y = 1750 – 1500 = 250
Konsep
ini menunjukan bahwa perubahan pengeluaran otonomus sebesar satu unit akan
mengubah output keseimbangan beberapa kali lipat besarnya perubahan pengeluaran
otonomus (A). Dalam kasus diatas, penambahan A (I0 atau C0) sebesar 50 unit,
telah menambah Y, sebesar 250 unit. DY = DY / DA = 5. Angka 5 disebut sebagai
angka pengganda. Sehingga dapat diasumsikan bahwa angka pengganda ditentukan
oleh besarnya angka MPC.
Untuk
menganalisa pendapat nasional, ada 2 variabel yaitu :
1. Variabel indogen yang nilainya dapat diperoleh setelah
dihubungkan dengan variabel dalam suatu model.
2. Variabel exsogen merupakan variabel yang besarnya
ditentukan oleh kekuatan diluar model. Dalam pembahasan ini variabel Investasi
merupakan variabel exogen (dianggap tetap).
Terdapat
beberapa cara yang digunakan dalam perhitungan pendapatan nasional, yaitu :
1. Gross National Product (GNP) atau disebut juga dengan
Pendapatan Nasional Bruto (PNB) merupakan nilai barang dan jasa dalam suatu
negara yang diproduksikan oleh faktor-faktor produksi milik warga negara
tersebut, termasuk nilai produksi yang diwujudkan oleh faktor produksi yang
digunakan di luar negri, namun tidak menghitung produksi yang dimiliki penduduk
atau perusahaan dari negara lain yang digunakan di dalam negara tersebut
(Sukirno, 2008, p35).
2. Gross Domestic Product (GDP) atau disebut juga dengan
Pendapatan Domestik Bruto (PDB) merupakan nilai pasar dari semua barang dan
jasa final yang diproduksi dalam sebuah negara pada suatu periode (Mankiw,
2006, p6), meliputi faktor produksi milik warga negaranya sendiri maupun milik
warga negara asing yang melakukan produksi di dalam negara tersebut.
4.
Hubungan antara pertumbuhan ekonomi, inflasi dan pengangguran
Masalah ekonomi yang paling sering menjadi topik bahasan
oleh ahli ekonomi maupun para dosen pengampu mata kuliah ekonomi adalah masalah
tentang pengangguran dan inflasi. Sedangkan dalam indikator ekonomi makro ada
tiga hal utama yang paling sering menjadi pokok permasalahan, yaitu masalah pertumbuhan
ekonomi, inflasi, dan yang terakhir adalah masalah pengangguran. Ketiga masalah
tersebut mempunyai keterkaitan hubungan yang tidak dapat dipisahkan, sehingga
cukup menarik untuk menjadi bahan pembahasan. Berikut ini adalah uraian
mengenai ketiga masalah tersebut.
a. Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan
ekonomi adalah proses dimana terjadi kenaikan produk nasional bruto riil atau
pendapatan nasional riil. Jadi perekonomian dikatakan tumbuh atau berkembang
bila terjadi pertumbuhan outputriil. Definisi pertumbuhan ekonomi yang lain
adalah bahwa pertumbuhan ekonomi terjadi bila ada kenaikan output perkapita.
Pertumbuhan ekonomi menggambarkan kenaikan taraf hidup diukur dengan output
riil per orang.
b.
Inflasi
Inflasi
(inflation) adalah gejala yang menunjukkan kenaikan tingkat harga umum yang
berlangsung terus menerus. Dari pengertian tersebut maka apabila terjadi
kenaikan harga hanya bersifat sementara, maka kenaikan harga yang sementara
sifatnya tersebut tidak dapat dikatakan inflasi. Semua negara di dunia selalu
menghadapi permasalahan inflasi ini. Oleh karena itu, tingkat inflasi yang
terjadi dalam suatu negara merupakan salah satu ukuran untuk mengukur baik
buruknya masalah eko-nomi yang dihadapi suatu negara. Bagi negara yang
perekono-miannya baik, tingkat inflasi yang terjadi berkisar antara 2 sampai 4
persen per tahun. Tingkat inflasi yang berkisar antara 2 sampai 4 persen
dikatakan tingkat inflasi yang rendah. Selanjut tingkat inflasi yang berkisar
antara 7 sampai 10 persen dikatakan inflasi yang tinggi. Namun demikian ada
negara yang meng-hadapai tingkat inflasi yang lebih serius atau sangat tinggi,
misalnya Indonesia pada tahun 1966 dengan tingkat inflasi 650 persen. Inflasi
yang sangat tinggi tersebut disebut hiper inflasi (hyper inflation).
c. Pengangguran
Pengangguran adalah orang yang masuk dalam angkatan kerja
(15 sampai 64 tahun) yang sedang mencari pekerjaan dan belum mendapatkannya.
Orang yang tidak sedang mencari kerja contohnya seperti ibu rumah tangga, siswa
sekolan smp, sma, mahasiswa perguruan tinggi, dan lain sebagainya yang karena
sesuatu hal tidak/belum membutuhkan pekerjaan.
perbedaan antara inflasi dan pengangguran
jumlah orang yang menganggur adalah jumlah orang di
negara yang tidak memiliki pekerjaan dan yang tersedia untuk bekerja pada
tingkat upah pasar saat ini. Ini dengan mudah dapat diubah menjadi persentase
dengan mengaitkan jumlah pengangguran, dengan jumlah orang dalam angkatan
kerja.
Inflasi adalah kenaikan harga secara umum selama 12
bulan. Ini diukur dengan mengambil rata-rata tertimbang semua produk konsumen
(tertimbang pada frquency pembelian) dan menganalisis tren harga keseluruhan.
Hal ini sering disebut Indeks Harga Konsumen (CPI) atau Harmonised Indeks Harga
Konsumen (HICP). Hal ini menunjukkan berapa banyak, sebagai persentase, tingkat
harga umum dari semua barang-barang konsumsi telah berubah sepanjang tahun.
Kedua telah dianalisis bersama-sama dengan kurva Phillips
yang menunjukkan tingkat inflasi diplot terhadap tingkat pengangguran.
5.
Pengertian Uang
Pengertian uang dibagi menjadi dua, yaitu: Pengertian
uang dalam ilmu ekonomi tradisional dan modern.
Pengertian uang dalam ekonomi tradisional didefinisikan
sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar itu dapat
berupa benda apapun yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam
proses pertukaran barang dan jasa. Uang seperti ini disebut Uang Barang.
Sedangkan dalam ilmu ekonomi modern, uang didefinisikan
sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran
bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya
bahkan untuk pembayaran hutang. Beberapa ahli juga menyebutkan fungsi uang
sebagai alat penunda pembayaran.
6.
Teori Uang dan Motif Memegang Uang
Teori
Nilai Uang dibagi menjadi dua, yaitu: Teori Uang Statis dan Teori Uang Dinamis.
·
Teori Uang Statis
Teori
ini disebut statis karena tidak mempersoalkan perubahan nilai uang yang
diakibatkan perkembangan ekonomi. Teori ini dibuat dengan tujuan untuk menjawab
pertanyaan seperti:
apakah
sebenarnya uang?
Mengapa
uang itu ada harganya? Mengapa uang itu sampai beredar?
Teori
ini meliputi:
1) Teori Metalisme, teori yang hampir sama dengan pengertian
nilai intrinsik.
2) Teori Konvensi, teori yang menyatakan uang bisa diterima
secara umum di masyarakat karena atas dasar perjanjian/ mufakat.
3) Teori Nominalisme, teori ini menyatakan diterimanya uang
berdasarkan nilai daya belinya.
4) Teori Negara, teori ini menyatakan bahwa uang adalah
benda yang ditetapkan oleh negara yang berfungsi sebagai alat tukar dan alat
bayar. Jadi nilainya pun ditetapkan oleh pemerintah yang diatur oleh
undang-undang.
·
Teori Uang Dinamis
Kalau teori diatas tidak mempersoalkan perubahan nilai
uang, maka Teori Uang Dinamis ini adalah sebaliknya.
Teori ini meliputi:
1) Teori Kuantitas, pada teori ini David Ricardo menyatakan
bahwa kuat atau lemahnya nilai uang sangat tergantung pada jumlah uang yang
beredar. Kemudian Irving Fisher menyempurnakan teori diatas dengan menyatakan
tidak hanya tergantung pada jumlah saja, tapi juga pada kecepatan peredaran
uang, barang dan jasa sebagai faktor yang memengaruhi nilai uang.
2) Teori Persediaan Kas, pada teori ini menyatakan bahwa
perubahan nilai uang tergantung dari jumlah uang yang tidak dibelikan
barang-barang.
3) Teori Ongkos Produksi, pada teori ini menyatakan nilai
uang dalam peredaran yang berasal dari logam dan uang itu dapat dipandang
sebagai barang.
Motif Memegang Uang
1.
Untuk kebutuhan Transaksi
Permintaan
uang untuk transaksi dipengaruhi oleh tinggi rendahnya tingkat pendapatan
nasional.
2.
Untuk Berjaga-Jaga
Motif
ini juga dipengaruhi oleh tinggi rendahnya pendapatan nasional. Semakin tinggi
pendapatan seseorang, maka tingkat kesadaran terhadap masa depan akan semakin
tinggi. Kondisi masa depan yang tidak menentu akan mendorong orang untuk
melakukan motif ini. Hal tersebut akan membawa kebutuhan yang semakin tinggi
akan perlunya uang untuk berjaga. Secara aggregate semakin tinggi pendapatan
nasional, maka kebutuhan masyarakat terhadap uang untuk berjaga-jaga juga akan
semakin tinggi.
3.
Untuk Mendapatkan Keuntungan / Berinvestasi
Arti
spekulasi pada motif ini adalah spekulasi dalam pembelian dan penjualan
surat-surat berharga. Motif ii dipengaruhi oleh tingkat suku bunga. Apabila
tingkat suku bunga naik, maka harga surat-surat berharga akan turun. Jadi
naiknya tingkat suku bunga akan menaikkan permintaan untuk spekulasi dan
sebaliknya.
7.
Bank Sentral dan Bank Umum
Bank Sentral
Bank sentral merupakan bank yang mengatur berbagai
kegiatan yang berkaitan dengan dunia perbankan dan dunia keuangan disuatu
Negara.
Bank
sentral di Indonesia bernama Bank Indonesia yang bertugas untuk:
1) Mengatur dan menjaga kestabilan nilai rupiah.
2) Mendorong kelancaran produksi dan pembangunan serta
memperluas kesempatan kerja guna peningkatan taraf hidup rakyat
Sebagai
Bank Sentral, Bank Indonesia melakukan tugas sebagai berikut:
1. Bank Sirkulasi, yakni mempunyai hak tunggal untuk
mengedarkan uang kertas dan logam sebagai alat pembayaran yang sah.
2. Banker’snBank Bank Sentral juga dianggap sebagai Bank-nya
Bank.
3. Lender of last resort. BI dianggap juga pemberi pinjaman
pada tingkat terakhir (kredit likuiditas darurat).
Bank Umum
Bank Umum merupakan bank yang bertugas melayani seluruh
jasa – jasa perbankan dan melayani segenap lapisan masyarakat, baik masyarakat
perorangan maupun lembaga – lembaga lainnya.
Fungsi
Bank-Umum secara lengkap adalah :
1) Mengumpulkan dana yang sementara menganggur untuk
dipinjamkan pada pihak lain atau membeli surat berharga.
2) Mempermudah dalam lalu lintas pembayaran uang.
3) Menjamin keamanan uang sementara tidak digunakan,
misalnya menghindari risiko hilang, kebakaran, dll.
4) Menciptakan kredit, yaitu dengan cara menciptakan demand
deposit dari kelebihan cadangannya.
Perbedaan
Bank Sentral dan Bank Umum
Ø Bank Sentral
1. Lembaga yang tidak mencari keuntungan.
2. Kegiatan bank dikelola oleh pemerintah.
3. Bertindak sebagai pengawas dan pembina bank.
4. Dapat secara langsung mempengaruhi kegiatan usaha bank.
5. Mengeluarkan uang kertas dan uang logam.
6. Tidak memiliki saingan.
7. Bertindak sebagai Lender of The Last Resort bagi
perbankan.
8. Tidak melayani jasa perbankan bagi individu dan
perusahaan non-Lembaga Keuangan.
Ø Bank Umum
1. Merupakan badan usaha yang mencari untung.
2. Umumnya secara kuantitas dimiliki dan dikelola oleh pihak
swasta.
3. Diawasi dan dibina oleh bank sentral.
4. Kegiatan operasinya dipengaruhi oleh bank sentral.
5. Hanya dapat menciptakan uang giral.
6. Melakukan persaingan antar bank.
7. Harus memiliki rekening pada bank sentral.
8. Melayani baik pribadi maupun perusahaan (masyarakat)
secara umum.
8.
Kebijaksanaan Moneter
Kebijakan moneter adalah proses mengatur persediaan uang
sebuah negara untuk mencapai tujuan tertentu; seperti menahan inflasi, mencapai
pekerja penuh atau lebih sejahtera. Kebijakan moneter dapat melibatkan mengeset
standar bunga pinjaman, "margin requirement", kapitalisasi untuk bank
atau bahkan bertindak sebagai peminjam usaha terakhir atau melalui persetujuan
melalui negosiasi dengan pemerintah lain.
Kebijakan moneter adalah upaya untuk mencapai tingkat
pertumbuhan ekonomi yang tinggi secara berkelanjutan dengan tetap
mempertahankan kestabilan harga. Untuk mencapai tujuan tersebut Bank Sentral
atau Otoritas Moneter berusaha mengatur keseimbangan antara persediaan uang
dengan persediaan barang agar inflasi dapat terkendali, tercapai kesempatan
kerja penuh dan kelancaran dalam pasokan/distribusi barang.Kebijakan moneter
dilakukan antara lain dengan salah satu namun tidak terbatas pada instrumen
sebagai berikut yaitu suku bunga, giro wajib minimum, intervensi dipasar valuta
asing dan sebagai tempat terakhir bagi bank-bank untuk meminjam uang apabila
mengalami kesulitan likuiditas.
Tujuan Kebijakan Moneter
Secara garis besar, tujuan kebijakan moneter adalah
menjaga kestabilan ekonomi yang ditandai dengan gairah dunia usaha dan
meningkatnya kesempatan kerja. Jika dirinci tujuan kebijakan moneteradalah
sebagai berikut..
ü Menjaga Stabilitas Ekonomi : Stabilitas ekonomi adalah
suatu keadaan perekonomian yang berjalan sesuai dengan harapan, terkendali, dan
berkesinambungan. Artinya, pertumbuhan arus uang yang beredar seimbang dengan
pertumbuhan arus barang dan jasa yang tersedia.
ü Menjaga Stabilitas Harga : Kebijakan moneter selalu
dihubungkan dengan jumlah uang beredar dan jumlah barang dan jasa. Interaksi
jumlah uang beredar dengan jumlah barang dan jasa akan menghasilkan harga. Ada
kalanya harga naik atau turun tidak beraturan, sehingga perubahan harga dapat
memengaruhi kegiatan ekonomi masyarakat. Apabila harga cenderung naik terus-menerus,
orang akan membelanjakan semua uangnya yang mengakibatkan terjadinya gejala
ekonomi yang disebut inflasi.
ü Meningkatkan Kesempatan Kerja : Jika jumlah uang beredar
seimbang dengan jumlah barang dan jasa, maka perekonomian akan stabil. Pada
keadaan ekonomi stabil, pengusaha akan mengadakan investasi. Investasi akan
memungkinkan adanya lapangan pekerjaan baru. Adanya lapangan pekerjaan baru
atau perluasan usaha berarti meningkatkan kesempatan kerja.
ü Memperbaiki Posisi Neraca Perdagangan dan Neraca Pembayaran
: Kebijakan moneter dapat memperbaiki posisi neraca perdagangan dan neraca
pembayaran. Jika negara mendevaluasi mata uang rupiah ke mata uang asing,
harga-harga barang ekspor akan menjadi lebih murah, sehingga memperkuat daya
saing dan meningkatkan jumlah ekspor. Peningkatan jumlah ekspor akan
memperbaiki neraca perdagangan dan neraca pembayaran.
Jenis-Jenis Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter dibagi atas dua macam atau jenis.
Jenis-Jenis kebijakan moneter adalah sebagai berikut :
o Kebijakan Moneter Ekspansif (Monetary expansive policy) :
Kebijakan moneter ekspansif adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah uang
yang beredar. Kebijakan ini dilakukan untuk mengatasi pengangguran dan
meningkatkan daya beli masyarakat (permintaan masyarakat) pada saat
perekonomian mengalami resesi atau depresi. Kebijakan moneter ekspansif juga
disebut dengan kebijakan moneter longgar (easy money policy).
o Kebijakan Moneter Kontraktif (Monetary Contractive
Policy) : Kebijakan moneter kontraktif adalah suatu kebijakan dalam rangka
mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan ini dilakukan pada saat
perekonomian mengalami inflasi. Kebijakan moneter kontraktif disebut juga
dengan kebijakan uang ketat (tight money policy).
Instrumen Kebijakan Moneter
Agar tujuan kebijakan moneter dapat tercapai, bank sentra
menggunakan instrumen-instrumen kebijakan moneter seperti berikut. :
o Kebijakan Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation) :
Operasi pasar terbuka adalah salah satu kebijakan yang diambil bank sentral
untuk mengurangi atau menambah jumlah uang beredar. Kebijakan ini dilakukan
dengan cara menjual sertifikat Bank Indonesia (SBI) atau membeli surat berharga
di pasar modal.
o Kebijakan Diskonto (Discount Policy): Diskonto adalah
pemerintah mengurangi atau menambah jumlah uang beredar dengan cara mengubah
diskonto bank umum. Jika bank sentral memperhitungkan jumlah uang beredar telah
melebihi kebutuhan (gejala inflasi), bank sentral mengeluarkan keputusan untuk
menaikkan suku bunga. Dengan menaikkan suku bunga akan merangsang keinginan
orang untuk menabung.
o Kebijakan Cadangan Kas : Bank sentral dapat membuat
peraturan untuk menaikkan atau menurunkan cadangan kas (cas ratio). Bank umum,
menerima uang dari nasabah dalam bentuk giro, tabungan, deposito, sertifikat
deposito, dan jenis tabungan lainnya. Ada persentase tertentu dari uang yang
disetorkan nasabah yang tidak boleh dipinjamkan.
o Kebijakan Kredit Ketat : Kredit tetap diberikan bank
umum, tetapi pemberiannya harus benar-benar didasarkan pada syarat 5C, yaitu
Character, Capability, Collateral, Capital, dan Condition of Economy. Dengan
kebijakan kredit ketat, jumlah uang yang beredar dapat diawasi. Langkah
kebijakan ini biasa diambil pada saat ekonomi sedang mengalami gejala inflasi.
o Kebijakan Dorongan Moral (Moral Suasion) : Bank sentral
dapat juga memengaruhi jumlah uang beredar dengan berbagai pengumuman, pidato,
dan edaran yang ditujukan pada bank umum dan pelaku moneter lainnya. Isi
pengumuman, pidato dan edaran dapat berupa ajakan atau larangan untuk menahan
pinjaman tabungan ataupun melepaskan pinjaman.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar