1.
Jenis Jenis Pasar
·
Pasar Persaingan
Sempurna
Suatu pasar dimana terdapat kekuatan dari
permintaan dapat penawaran yang dapat secara bebas bergerak. Pasar persaingan
sempurna merupakan pasar di mana penjual dan pembeli tidak dapat mempengaruhi
harga, sehingga harga di pasar benar-benar merupakan hasil kesepakatan dan
interaksi antara penawaran dan permintaan.
Ciri – ciri pasar persaingan sempurna :
1. Terdapat banyak pembeli dan penjual, artinya masing-masing
pihak, baik pembeli maupun penjual tidak dapat mempengaruhi harga pasar.
2. Banyaknya barang yang diperdagangkan bersifat homogen,
artinya konsumen beranggapan bahwa barang-barang yang diperjualbelikan memiliki
kualitas yang sama.
3. Informasi pasar lengkap, artinya antara pembeli dan
penjual saling mengetahui tentang mutu, harga, tempat, dan waktu barang-barang
yang diperdagangkan.
4. Harga ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran,
artinya pembeli bebas mengambil keputusan untuk membeli atau tidak terhadap
barang, begitu juga penjual juga memiliki kebebasan untuk menjual arang dan
jasa.
5. Bebas dari campur tangan pemerintah, artinya pemerintah
tidak turut campur tangan dalam menentukan harga di pasar.
6. Susah untuk mendapatkan keuntungan yang besar (di atas
rata-rata).
7. Mudah untuk keluar masuk dari pasar.
·
Pasar Monopoli
Pasar monopoli adalah suatu keadaan pasar di
mana hanya ada satu kekuatan atau satu penjual yang dapat menguasai seluruh
penawaran, sehingga tidak ada pihak lain yang menyainginya atau terdapat pure
monopoly (monopoli murni). Dan perusahaan ini menghasilkan barang yang tidak
mempunyai barang pengganti yang sangat dekat.
Ciri-ciri pasar monopoli :
1. Hanya ada satu penjual sebagai pengambil keputusan harga
(melakukan monopoli pasar).
2. Penjual lain tidak ada yang mampu menyaingi dagangannya.
3. Pedagang lain tidak dapat masuk karena ada hambatan
dengan undang-undang atau karena teknik yang canggih.
4. Jenis barang yang diperjualbelikan hanya semacam.
5. Tidak adanya campur tangan pemerintah dalam penentuan
harga.
6. Pasar monopoli adalah industry satu perusahaan
7. Tidak mempunyai barang pengganti yang mirip
8. Tidak terdapat kemungkinan untuk masuk ke dalam industry
9. Dapat mempengaruhi penentuan harga secara mutlak
10. Promosi iklan kurang diperlukan
Kelebihan Dan
Kelemahan Pasar Monopoli :
Kelebihan pasar monopoli antara lain sebagai berikut.
1.
Mendorong untuk
adanya inovasi baru agar tetap terjaga monopolinya.
2.
Tidak akan mungkin
timbul perusahaan-perusahaan yang kecil sehingga perusahaan monopoli akan
semakin besar.
3.
Mampu melakukan
penelitian dan pengembangan produk
4.
Dapat meningkatkan
daya saing bilamonopoli diperoleh karena kemampuan efisiensi
5.
Mudah mengontrol
kepentingan orang banyak bila monopoli dilakukan Negara
6.
Dapat meningkatkan
inovasi(penemuan baru)bila monopoli terbentuk karena pemberian hak cipta dan
hak paten
Kelemahan pasar monopoli sebagai berikut.
1.
Timbul ketidakadilan
karena keuntungan banyak dinikmati oleh produsen.
2.
Tidak efisiensinya
biaya produksi, karena perusahaan monopoli tidak memanfaatkan secara penuh
penghematan ongkos produksi atau sering disebut timbulnya pemborosan.
3.
Konsumen merasa berat
karena harus membeli barang dengan harga sangat tinggi oleh perusahaan
monopoli.
4.
Adanya unsur
eksploitasi terhadap konsumen dan pemilik faktor-faktor produksi.
·
Pasar Monopolistik
Pasar Monopolistik adalah salah satu pasar
yang dimana terdapat banyak produsen
yang memproduksi atau menghasilkan barang serupa tetapi mempunyai
perbedaan dalam beberapa aspek. Penjual di pasar monopolistik tidak terbatas,
tapi setiap produk yang dihasilkan pasti mempunyai karakter tersendiri yang
membedakannya dengan produk-produk lainnya.
Seperti misalnya sabun mandi, shampo, pasta
gigi, dan sebagainya. Meskipun fungsi dari semua sabun mandi sama yaitu untuk
membersihkan badan, akan tetapi setiap produk yang dihasilkan oleh produsen
yang berbeda memiliki ciri yang khusus, seperti misalnya perbedaan wangi,
warna, kemasan, bentuk dan sebagainya.
Pasar monopolistik juga bisa disebut pasar yang dimana
terdapat banyak produsen atau perusahaan yang menjual barang yang berbeda
corak.
Ciri-ciri pasar monopolistik
1. Terdapat banyak produsen/penjual.
Pasar ini memang memiliki banyak produsen,
tapi pasar ini tidak memiliki produsen sebanyak pasar persaingan sempurna dan
tidak ada satu pun produsen yang memiliki skala produksi yang lebih besar dari
pada produsen lainnya.
2. Adanya diferensiasi produk.
Pasar ini menjual produk yang cenderung sama,
tapi memiliki banyak perbedaan khususnya dengan produk lain, seperti misalnya
dari cara pengemasan, bentuk dan sebagainya.
3. Produsen dapat mempengaruhi harga.
Di pasar ini dimana harga terbentuk
berdasarkan dari mekanisme pasar, oleh sebab itu pasar monopolistik dapat
mempengaruhi harga meskipun tidak sebesar pasar oligopoli maupun pasar
monopoli.
4. Produsen dapat keluar masuk pasar.
Dalam hal ini dipengaruhi oleh laba ekonomis,
ketika produsen hanya sedikit di pasar maka laba ekonomisnya akan tinggi. Saat
produsen semakin banyak, otomatis laba ekonomis akan semakin kecil, maka pasar
semakin menjadi tidak menarik dan produsen dapat meninggalkan pasar.
5. Promosi penjualan harus aktif.
Di pasar ini harga bukanlah merupakan
pendongkrak jumlah pembeli atau konsumen, melainkan kemampuan produsen atau
perusahaan untuk menciptakan citra yang baik dimata para konsumen, sehingga
dapat menimbulkan fanatisme terhadap produk. Jadi, iklan atau promosi memiliki
peran yang sangat penting dalam meraih dan mempertahankan banyak konsumen.
Kelebihan dan
kekurangan pasar monopolistic
Kelebihan pasar monopolistik:
1.
Banyak produsen di
pasar yang memberikan keuntungan bagi pembeli atau konsumen untuk dapat memilih
produk yang terbaik baginya.
2.
Kebebasan keluar
masuk untuk produsen, mendorong produsen untuk selalu melakukan inovasi yang
baru dalam menghasilkan produknya.
3.
Diferensiasi produk
mendorong para konsumen untuk selektif dalam menentukan produk yang akan
dibelinya, serta dapat membuat para konsumen loyal terhadap produk yang
dipilihnya.
• Pasar ini umumnya mudah untuk dijumpai oleh
konsumen, sebab sebagian besar kebutuhan sehari-hari tersedia di pasar ini.
Kekurangan pasar monopolistik:
1.
Pasar monopolistik
memiliki tingkat persaingan yang sangat tinggi, baik dari segi harga, kualitas
maupun dari segi pelayanan. Sehingga produsen yang tidak memiliki modal maupun
pengalaman yang cukup akan lebih cepat keluar dari pasar ini.
2.
Dibutuhkan modal yang
besar untuk masuk ke dalam pasar monopolistik, sebab pemain pasar di dalamnya
mempunyai skala ekonomis yang cukup tinggi.
3.
Pasar monopolistik
mendorong produsen untuk selalu berinovasi terhadap produk-produknya, sehingga
akan meningkatkan biaya produksi yang nantinya akan berimbas pada harga produk
yang harus dibayar oleh pembeli atau konsumen.
·
Pasar Oligopoli
Pasar oligopoli adalah suatu pasar yang
dimana terdapat beberapa penjual dalam pasar suatu produk tertentu. Definisi
pasar oligopoli yaitu suatu pasar yang dimana penawaran satu jenis produk
dikuasai oleh beberapa perusahaan. Biasanya jumlah perusahaan lebih dari dua,
akan tetapi kurang dari sepuluh.
Pasar oligopoli ini dasarnya dibagi menjadi
dua bentuk, diantaranya pasar oligopoli dengan diferensiasi produk yaitu produk
suatu perusahaan dibedakan dari perusahaan lainnya. Dan bentuk yang lainnya
yaitu pasar oligopoli tanpa ada diferensiasi produk. Produk yang dihasilkan
oleh produsen bersifat homogen, serta tidak dibedakan dengan perusahaan yang
lain. Di pasar ini perusahaan atau produsen dapat bersaing secara langsung,
tapi dapat pula melakukan merger (penggabungan).
Ciri-ciri dari pasar oligopoli, diantaranya sebagai
berikut dibawah ini:
o Adanya beberapa produsen yang menguasai pasar.
o Produk yang diperjualbelikan dapat homogen dan dapat juga
berbeda corak.
o Setiap produsen atau perusahaan cenderung untuk memberlakukan
harga pasar yang umum.
o Adanya kepemimpinan harga (price leader), oleh perusahaan
atau produsen terbesar.
Contoh produk pasar oligopoli misalnya seperti: semen,
air mineral, jasa penerbangan dan lain sebagainya.
Kebaikan dan kelemahan Pasar Oligopoli :
Kebaikan dari pasar oligopoli, perusahaan akan
mengembangkan penelitian dan melakukan inovasi terhadap produknya. Inovasi
tersebut sangat diperlukan sebab persaingan yang terjadi bukan dalam bentuk
persaingan harga, tapi dari hal kualitas produknya.
Kelemahan pasar oligopoli, harga dalam pasar ini
cenderung cukup tinggi, sehingga pihak perusahaan akan memperoleh keuntungan
yang cukup besar. Kondisi seperti ini bisa berakibat kepada tidak meratanya
distribusi pendapatan. Dan selain itu, biaya dari promosi yang dibutuhkan cukup
besar yang dapat berakibat pada membesarnya biaya produksi.
2.
Pengertian dan Konsep-konsep Pendapatan Nasional
Pendapatan nasional adalah merupakan jumlah seluruh
pendapatan yang diterima oleh masyarakat dalam suatu negara selama satu tahun.
KONSEP PENDAPATAN
NASIONAL
1. PDB/GDP (Produk Domestik Bruto/Gross Domestik Product)
Produk Domestik Bruto adalah jumlah produk berupa barang
dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu
Negara selama satu tahun. Dalam perhitungannya, termasuk juga hasil produksi
dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/orang asing yang beroperasi diwilayah
yang bersangkutan.
2. PNB/GNP (Produk Nasional Bruto/Gross Nasional Product)
PNB adalah seluruh nilai produk barang dan jasa yang
dihasilkan masyarakat suatu Negara dalam periode tertentu, biasanya satu tahun,
termasuk didalamnya barang dan jasa yang dihasilkan oleh masyarakat Negara
tersebut yang berada di luar negeri.
Rumus
GNP = GDP – Produk netto terhadap luar negeri
3. NNP (Net National Product)
NNP adalah jumlah barang dan jasa yang dihasilkan oleh
masyarakat dalam periode tertentu, setelah dikurangi penyusutan (depresiasi)
dan barang pengganti modal.
Rumus :
NNP = GNP – Penyusutan
4. NNI (Net National Income)
NNI adalah jumlah seluruh penerimaan yang diterima oleh
masyarakat setelah dikurangi pajak tidak langsung (indirect tax).
Rumus :
NNI = NNP – Pajak tidak langsung
5. PI (Personal Income)
PI adalah jumlah seluruh penerimaan yang diterima
masyarakat yang benar-benar sampai ke tangan masyarakat setelah dikurangi oleh
laba ditahan, iuran asuransi, iuran jaminan social, pajak perseorangan dan
ditambah dengan transfer payment.
Rumus :
PI = (NNI + transfer payment) – (Laba ditahan + Iuran
asuransi + Iuran jaminan social + Pajak perseorangan )
6. DI (Disposible Income)
DI adalah pendapatan yang diterima masyarakat yang sudah
siap dibelanjakan oleh penerimanya.
Rumus :
DI = PI – Pajak langsung
Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi suatu negara biasanya dihitung
berdasarkan pertumbuhan ril dari GDP negara tersebut, yakni seberapa besar GDP
negara bertambah secara ril dari tahun ke tahun. Pertumbuhan ini dihitung
dengan cara membagi nilai dari output suatu sektor ekonomi pada tahun tertentu
dengan nilai output sektor tersebut pada tahun sebelumnya dan dikali 100 %
kemudian dikurangi 100. Bila GDP mengalami pertumbuhan yang tinggi berarti
pendapatan masyarakat juga akan mengalami pertumbuhan yang tinggi, terlepas
dari siapa atau kelompok mana dari masyarakat yang menerima pendapatan
tersebut.
Pengeluaran Agregat
(Aggregate Spending)
Seperti diterangkan diatas bahwa GDP dapat dihitung dari
sisi pengeluaran aggregate (Aggregate Spending) pelaku ekonomi dalam suatu
negara. Pengeluaran aggreaget ini sama dengan Permintaan Agregat karena
konsekuensi dari permintaan adalah adanya pengeluaran oleh rumah tangga,
investor, pemerintah dan eksportir untuk membeli barang dan jasa. Pengeluaran
Aggregate dapat dikelompokkan atas empat komponen, yaitu:
• Pengeluaran
konsumsi rumah tangga,
• Pengeluaran
invesatasi oleh pengusaha (bisnis),
• Pengeluaran
pemerintah
• Permintaan
luar negeri.
Pengeluaran Konsumsi
Merupakan bagian terbesar dari permintaan agregat yaitu
berupa permintaan dari konsumen terhadap barang dan jasa yang dibutuhkan dalam
kehidupan sehari-hari. Konsumsi ini memegang peranan penting dalam perekonomian
menurut teori Keynesian karena akan menentukan output dan pendapatan masyarakat
suatu negara. Kontribusi konsumsi terhadap pembentukan GDP di Indonesia diperkirakan
sebesar 65% dari total GDP. Konsumsi dapat dibagi atas tiga kategori yaitu
barang tanah lama (durable goods) seperti mobil, barang tidak tahan lama
(nondurable goods), dan jasa (services). Dari sisi asal barang maka barang dan
jasa yang dikonsumsi oleh konsumen dalam negeri terdiri dari barang produksi
dalam negeri dan barang /jasa yang diproduksi oleh negara lain yang diimport ke
Indonesia. Dalam penghitungan GDP angka import ini harus dikeluarkan dari angka
GDP.
Pengeluaran
Pemerintah
Yang termasuk dalam pengeluaran pemerintah adalah semua
pengeluaran pemerintah yang diperlukan agar roda pemerintahan dapat berjalan
dengan baik. Pengeluaran pemerintah ini tercantum dalam Anggaran Belanja dan
Pendapatan Nasional (APBN). Barang dan jasa yang dibeli oleh pemerintah tidak
dihitung nilai tambahnya (value added) seperti halnya pada barang konsumsi
karena barang dan jasa yang diproduksi oleh pemerinatah pada umumnya adalah
gratis. Pengeluaran pemerintah seperti uang pensiun (transer of payment) tidak
dihitung dalam GDP karena pengeluaran tersebut bukan merupakan pembelian
terhadap barang atau jasa yang baru diproduksi.
Pengeluaran Investasi
Investasi adalah tambahan terhadap akumulasi modal
(physical stock of capital) ditambah dengan perobahan persediaan (inventory
changes). Tetapi transaksi saham tidak termasuk dalam penambahan stok modal.
Jadi investasi adalah aktifitas yang bisa meningkatkan kemampuan ekonomi dalam
memproduksi barang dan jasa dimasa mendatang. Contohnya adalah pembelian barang
investasi, peralatan, dan pembangunan rumah baru. Sewa dari tumah tersebut
dihitung sebagai konsumsi.
Permintaan Ekspor
Bersih (Net Export)
Komponen terakhir dari GDP adalah net export yaitu
selisih antara export dan import (X – M). Export merupakan GDP dari dalam
negeri karena merupakan barang atau jasa yang diproduksi di dalam negeri,
tetapi tidak dikonsumsi di dalam negeri. Barang ekspor akan dibeli atau
dikonsumsi oleh rumah tangga, investor, atau pemerintah negara asing sedangkan
import adalah barang yang diproduksi di luar negeri, berarti adalah GDP negara
asing.
Dalam GDP yang dihitung adalah net ekspor untuk
menghindari penghitungan dua kali (double counting). Barang dan jasa yang
dibeli oleh rumah tangga, investor, dan pemerintah tidak semuanya diproduksi di
dalam negeri tetapi beberapa barang yang dibeli tersebut berasal dari luar
negeri. Jadi komponen pengeluaran aggeregate yang diuraikan diatas -
pengeluaran rumah tangga, investor dan pemerintah – sebagiannya adalah barang
yang diproduksi di luar negeri, berarti adalah GDP negara asing atau bukan
merupakan GDP Indonesia. Karena itu untuk mengkoreksinya maka ekspor harus
dikurangi dengan impor agar barang import tidak terhitung sebagai GDP kita,
karena yang termasuk dalam GDP Indonesia adalah konsumsi rumah tangga berupa
barang-barang produksi dalam negeri, ditambah dengan belanja barang investor,
ditambah belanja barang pemerintah dan ditambah dengan nilai barang yang
diekspor ke luar negeri. Barang-barang import yang telah dikonsumsi oleh
konsumen dalam negeri tidak bisa dihitung sendiri karena telah masuk dalam
perhitugan jumlah konsumsi. Nilai barang import ini tentu sama dengan jumlah
nilai barang yang diimport yang tercatat di Bea dan Cukai sehingga dengan
mengeluarkannya dari angka export maka sama dengan mengeluarkannya dari angka
konsumsi barang import.
Metode Perhitungan
Pendapatan Nasional
1. Metode Produksi
Menurut metode produksi (production approach), produk
nasional atau Produk Domestik Bruto diperoleh dengan menjumlahkan nilai pasar
dari seluruh barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai sektor di dalam
perekonomian dalam periode tertentu. Dengan demikian, PNB atau GDP menurut
metode ini, jumlah dari harga setiap masing-masing barang dan jasa dikalikan
dengan jumlah atau kuantitas barang dan jasa yang dihasilkan.
Pendapatan nasional menurut metode produksi dapat
dirumuskan sebagai berikut :
Y = [(Q1 X P1) + (Q2 X P2) + (Qn X Pn) ……]
Keterangan :
Y = Produk Nasional atau Produk Domestik Bruto (PNB atau
GDP)
P = Harga Barang dari unit ke-I hingga unit ke-n
Q = Jumlah barang dari jenis ke-I hingga jenis ke-n
PNB atau GDP diperoleh dengan menjumlahkan nilai tambah
(value added) yang dihasilkan oleh berbagai sector perekonomian.
2. Metode Pengeluaran
Menurut metode pengeluaran, pendapatan nasional adalah
penjumlahan seluruh pengeluaran yang dilakukan seluruh rumah tangga ekonomi
(RTP, RTK, RTG, dan Rumah Tangga Luar Negeri) di dalam suatu negara selama
periode tertentu, biasanya satu tahun.
Pendapatan nasional menurut metode pengeluaran dapat
dihitung dengan cara menjumlahkan pengeluaran yang dilakukan seluruh rumah
tangga ekonomi. Dengan demikian, komponen-komponen pendapatan nasional menurut
metode pengeluaran terdiri atas empat komponen, yaitu sebagai berikut :
ü Konsumsi (Consumption), yaitu pengeluaran yang dilakukan
rumah tangga konsumen, yang ditulis dalam rumus dengan lambang C.
ü Investasi (Investment), yaitu pengeluaran yang dilakukan
rumah tangga produsen, yang ditulis dalam rumus dengan lambang I.
ü Pengeluaran Pemerintah (Government Expenditure), yaitu
pengeluaran yang dilakukan rumah tangga pemerintah, , yang ditulis dalam rumus
dengan lambang G.
ü Ekspor dan Impor (Export-Import), yaitu pengeluaran yang
dilakukan rumah tangga Luar Negeri, yang ditulis dalam rumus dengan lambang X
dan M.
Komponen pembentuk pendapatan nasional tersebut menurut
pendekatan pengeluaran dapat dicerminkan dalam rumus sebagai berikut :
Y = C + I + G + (X – M)
Keterangan :
Y = Pendapatan Nasional
C = Pengeluaran konsumsi Rumah Tangga Konsumen (RTK)
I = Pengeluaran Investasi Rumah Tangga Produsen (RTP)
G = Pengeluaran pemerintah dari Rumah Tangga Pemerintah
(RTG)
X = Ekspor
M = Impor
3. Metode Pendapatan/Penerimaan
Menurut metode pendapatan, pendapatan nasional adalah
hasil penjumlahan seluruh penerimaan yang diterima para pemilik faktor produksi
di dalam suatu negara selama periode tertentu (biasanya satu tahun). Pendapatan
nasional menurut metode penerimaan merupakan penjumlahan dari sewa, upah, bunga
modal, dan laba yang diterima masyarakat pemilik faktor produksi selama satu
tahun yang dapat dirumuskan sebagai berikut :
Y = r + w + i + p
Dengan demikian, komponen-komponen pembentuk pendapatan
nasional menurut metode pendapatan/penerimaan terdiri atas empat komponen,
yaitu :
1.
Sewa (rent) yang
diterima pemilik faktor produksi alam.
2.
Upah (wages) atau
Gaji (Salary) yang diterima pemilik faktor produksi tenaga kerja.
3.
Bunga modal
(interest) yang diterima pemilik faktor produksi modal.
4.
Laba (profit) yang
diterima pemilik faktor produksi kewirausahaan (entrepreneurship)
Masalah dan Keterbatasan Perhitungan PDB
A. Perhitungan PDB dan Analisa Kemakmuran
Perhitungan PDB akan
memberikan gambaran ringkas tentang tingkat kemakmuran suatu negara, dengan
cara membaginya dengan jumlah penduduk (disebut PDB per kapita). Menurut PBB,
sebuah negara dikatakan miskin bila PDB per kapitanya lebih kecil daripada US$
450,00. Berdasarkan standar ini, maka sebagian besar negara-negara di dunia
adalah negara miskin. Suatu negara dikatakan makmur/kaya bila PDB perkapita
lebih besar daripada US$ 800.
Kelemahan dari pendekatan di
atas adalah tidak memperhatikan aspek distribusi pendapatan. Akibatnya angka
PDB per kapita kurang memberikan gambaran rinci tentang kondisi kemakmuran
suatu negara. Misalnya, walaupun Amerika Serikat yang PDB perkapitanya US$
29.080 (tahun 1997), namun negara itu masih terus bergelut dengan masalah
kemiskinan dan pengangguran, terutama di kalangan warga kulit hitam ataupun
pendatang (kulit berwarna). Bahkan secara absolut tampaknya jumlah penduduk
miskin di Amerika serikat akan bertambah.
Faktor utama pemicu gejala di atas adalah masalah
distribusi pendapatan.
Walaupun distribusi
pendapatan di USA relatif baik, tetapi belum sempurna untuk membuat seluruh
penduduknya menjadi makmur. Bahkan untuk faktor produksi non tenaga kerja,
terutama uang dan modal, distribusi penguasaannya sangat buruk. Pada tahun
1996, sekitar 46% aset finansial
dikuasai hanya oleh sekitar 1% penduduk.
B. Perhitungan PDB dan Masalah Kesejahteraan Sosial
Umumnya ukuran tingkat
kesejahteraan yang dipakai adalah tingkat pendidikan, kesehatan dan gizi,
kebebasan memilih pekerjaan dan jaminan masa depan yang lebih baik. Ada hubungan
yang positif antara tingkat PDB per kapita dengan tingkat kesejahteraan sosial.
Makin tinggi PDB per kapita, tingkat kesejahteraan sosial makin membaik.
Hubungan ini dapat dijelaskan dengan menggunakan logika sederhana. Jika PDB per
kapita mkin tinggi, maka daya beli masyarakat, kesempatan kerja serta masa
depan perekonomian makin membaik. Sehingga gizi, kesehatan, pendidikan,
kebebabasan memilih pekerjaan dan jaminan masa depan, kondisinya makin
meningkat. Tapi dengan catatan, peningkatan PDB per kapita disertai perbaikan
distribusi pendapatan.
Masalah mendasar dalam
perhitungan PDB adalah tidak diperhatikannya dimensi nonmaterial. Sebab PDB
hanya menghitung output yang dianggap memenuhi kebutuhan fisik/ materi yang
dapat diukur dengan nilai uang. Sedangkan output yang tidak terukur dengan
uang, misalnya ketenangan batin yang diperoleh dengan menyandarkan hidup pada
norma-norma agama/spiritual tidak dihitung. Sebab, dalam kenyataannya
kebahagiaan tidak hanya ditentukan oleh tingkat kemakmuran, tetapi juga
ketenangan batin.
Jadi kita tidak bisa serta merta mengatakan
bahwa kesejahteraan sosial di negara-negara kaya(Amerika Serikat dan Jepang)
adalah jauh lebih baik dibanding di negara-negara miskin (misal Bhutan dan
Nepal). Karena, tingkat kejahatan dan tingkat bunuh diri di negara-negara kaya
tersebut lebih tinggi di banding negara-negara miskin.
C. PDB Per Kapita dan Masalah Produktivitas
Untuk memperoleh perbandingan produktivitas antar negara,
ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:
1) Jumlah dan komposisi penduduk : Bila jumlah penduduk
makin besar, komposisi-nya sebagian besar adalah penduduk usia kerja (15-64
tahun) dan berpendidikan tinggi (> SLA), maka tingkat output dan
produktivitasnya dapat makin baik.
2) Jumlah dan struktur kesempatan kerja :
Jumlah
kesempatan kerja yang makin besar memperbanyak penduduk usia kerja yang dapat
terlibat dalam proses produksi. Tetapi komposisi kerja pun mempengaruhi tingkat
produktivitas. Sekalipun kesempatan kerja sangat besar, tetapi semuanya adalah
kesempatan kerja sektor pertanian, produktivitas pekerja juga tidak tinggi.
Sebab sektor pertanian umumnya memiliki nilai tambah yang rendah. Jika
kesempatan kerja yang dominan berasal dari sektor kegiatan ekonomi modern
(industri dan jasa), maka output per pekerja akan relatif tinggi, karena nilai
tambah kedua sektor tersebut amat tinggi.
3) Faktor-faktor nonekonomi :
Yang
tercakup dalam faktor-faktor nonekonomi antara lain etika kerja, tata nilai,
faktor kebudayaan dan sejarah perkembangan. Jepang pantas menjadi negara yang
produktif sebab selain jumlah penduduk yang banyak, berpendidikan tinggi dan
umumnya bekerja di sektor modern, mereka juga memiliki etika kerja yang baik,
menjujung tinggi kejujuran dan penghargaan tergadap senior. Dan Jepang juga
merupakan negara yang selama kurang lebih 3.000 tahun terus menerus membangun
dirinya menjadi bangsa modern, walaupun pembangunan ekonomi modernnya baru
dimulai dua abad yang lalu.
D. Penghitungan PDB dan Kegiatan-kegiatan Ekonomi Tak
Tercatat (Underground Economi)
Angka statistik PDB Indonesia yang dilaporkan oleh Badan
Pusat Statistik hanya mencatat kegiatan-kegiatan ekonomi formal. Karena itu,
statistik PDB belum mencerminkan seluruh aktivitas perekonomian suatu negara.
Misalnya, upah pembantu rumah tangga di Indonesia tidak tercatat. Begitu juga
dengan kegiatan petani buah yang langsung menjual produknya ke pasar.
Di
negara-negara berkembang, keterbatasan kemampuan pencatatan lebih disebabkan
oleh kelemahan administratif dan struktur kegiatan ekonomi masih didominasi
oleh kegiatan pertanian dan informal. Tetapi di negara-negara maju, kebanyakan
kegiatan ekonomi yang tak tercatat disebabkan oleh karena kegiatan tersebut
merupakan kegiatan ilegal atau melawan hukum. Padahal, nilai transaksinya
sangat besar. Misalnya, kegiatan penjualan obat bius dan obat-obat terlarang
lainnya.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar