Selasa, 02 Desember 2014

Perkembangan penduduk dunia dan indonesia


1.  Hubungan Antara Perkembangan Penduduk dan Ketersediaan Pangan

 Dalam publikasi terbaru yang diterbitkan oleh Food and Agriculture Organization
(FAO) PBB mengenai “indeks harga makanan”, indeks yang mengukur perubahan harga
sekeranjang komoditas pangan dunia secara bulanan, secara jelas menunjukkan bahwa hargakomoditas tersebut mengalami kenaikan terus-menerus dalam beberapa tahun terakhir di berbagai belahan dunia.
Harga pangan dianggap sebagai “tsunami bisu” yang akan mempengaruhi kehidupan
 jutaan orang, karena tampaknya era makanan murah telah berakhir dan beban dari harga-
harga baru ini akan semakin membuat dunia “tenggelam” seiring dengan bertambahnya
 jumlah penduduk dunia.Meningkatnya harga pangan ini secara nyata bertepatan dengan meningkatnyakekhawatiran mengenai ketersediaan pangan dunia pada indeks harga berapa pun. Hal inimengkhawatirkan terutama bagi negara-negara berkembang di mana sejumlah lapisanmasyarakat yang paling rentan semakin dihadapkan pada ketidakpastian apakah merekamampu memperoleh makanan berikutnya atau tidak.Beberapa faktor berkontribusi terhadap kenaikan harga pangan saat ini. Kenaikan jumlah populasi dunia secara keseluruhan mengindikasikan akan bertambahnya jumlahindividu yang harus diberi makan, kenaikan permintaan jumlah makanan dan kualitasmakanan yang lebih baik dari negara-negara seperti India atau China.Meningkatnya kekhawatiran terhadap harga pangan dan bagaimana hal ini berdampak pada tingkat kemiskinan dan pembangunan, terbukti oleh kerusuhan dan revolusi yang terjadidi Timur Tengah. Harga pangan merupakan pendorong terjadinya kerusuhan sosial yangmenyebar di Tunisia dan selanjutnya berkembang menjadi isu di beberapa negara lain.Tingginya harga pangan menyebabkan jutaan orang jatuh ke jurang kemiskinan,mengakibatkan kerusuhan, ketidakstabilan ekonomi dan meruntuhkan kekuasaan pemerintahdi negara-negara berkembang tersebut.Krisis pangan yang sedang terjadi mengingatkan kita bahwa isu ketahanan panganadalah isu permasalahan sosial dan merupakan permasalahan ekonomi. Dalam kasusIndonesia, kebijakan di bidang pertanian saat ini telah menghasilkan beberapa poin yang beralasan mengenai swasembada beberapa pangan utama, mengembangkan diversifikasi pangan, meningkatkan kapasitas dan efisiensi yang produktif, dan kebijakan-kebijakan ini juga telah mampu meningkatkan standar kehidupan bagi sejumlah penduduk. Negara seperti Indonesia telah membuat perkembangan yang signifikan dalam usahamengurangi kemiskinan sejak krisis finansial Asia di tahun 1998, dan dengan pengembangan produktivitas di bidang pertanian, Indonesia telah memperoleh predikat sebagai salah satunegara yang mengalami perkembangan di sektor pertanian tercepat
Pesatnya pertumbuhan penduduk menuntut pemenuhan pangan yang sangat besar. USCensus Bureau mencatat kebutuhan pangan biji-bijian (beras dan jagung) di Asia akanmeningkat pesat dari 344 juta ton than 1997 menjadi 557 juta ton tahun 2020. Persoalankrisis pangan dunia yang ditandai kelangkaan pangan dan melonjaknya harga pangan di pasarinternasional tahun 2008. Salah satunya disebabkan karena membumbungya permintaan pangan oleh kekuatan ekonomi baru Cina dan India dengan penduduk masing-masing 1miliar jiwa.

2.  Perkembangan Penduduk dan Ketersediaan Pangan di Indonesia
 Tingkat pertambahan penduduk dihitung berdasarkan persentase kenaikan relativeatau persentase penurunan relative dari jumlah penduduk neto per tahun yang bersumber dari pertambahan alami dan migrasi internasional. Pertambahan alami adalah selisih antara jumlah kelahiran dengan jumlah kematian di suatu Negara (selisih antara fertilitas denganmortalitas). Migrasi internasional neto adalah selisih antara jumlah penduduk yang beremigrasi dengan yang berimigrasi. Laju pertumbuhan penduduk Negara dunnia ketigahamper sepenuhnya dihitung berdasarkan angka pertambahan alami. Total tingkat fertilitas atau total fertility rate adalah rata-rata jumlah anak yang akan dimiliki seorang wanita dengan mengasumsikan bahwa tingkat kelahiran saat ini tetap konstan selama masa produktif wanita tersebut.
Penyebab utama perbedaan laju pertumbuhan penduduk antara Negara-negara majudan Negara-negara berkembang bertumpu pada perbedaan tingkat kelahiran. Kesenjangan tingkat kematian antara Negara-negara maju dan berkembang semakin lama semakin kecil.Penyebab utamanya adalah membaiknya kondisi kesehatan di seluruh Negara-negara dunia ketiga. Bagi kebanyakan Negara berkembang, tingkat kematian bayi telah mengalami penurunan besar selama beberapa decade terakhir sehingga harapan hidup menjadi lebih lama.
Penduduk Indonesia dari tahun ke tahun selalu bertambah. Perubahan jumlah penduduk ini disebut sebagai pertumbuhan penduduk. Pertumbuhan penduduk adalah bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk di suatu daerah atau negara dalam kurun waktu tertentu. Tingkat pertumbuhan penduduk di negara kita masih termasuk tinggi.
Pertumbuhan penduduk di suatu daerah/negara disebabkan oleh faktor-faktor demografi :
1. Angka kelahiran, fertilitas, natalitas/birth rate.
2. Angka kematian, mortalitas/death rate.
3. Migrasi masuk (imigrasi) yaitu masuknya penduduk ke suatu daerah tempat tujuan(area of destination).
4. Migrasi keluar (emigrasi) yaitu perpindahan penduduk keluar dari suatu daerah asal(area of origin).

No.
Nama Negara
Jumlah Penduduk
1.
RRT
1.306.313.812 jiwa
2.
India
1.103.600.000 jiwa
3.
Amerika
298.186.698 jiwa
4.
Indonesia
241.973.879 jiwa

Sebuah fakta yang mengejutkan, hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010 ternyatamencapai angka 241,9 juta jiwa. Tingkat pertumbuhannya pun yang menyentuh angka 1,49 persen per tahun ternyata meleset dari perkiraan sebelumnya. Angka ini memang sebuah statistik, tetapi bukan sekedar statistik karena memiliki makna penting dan implikasi yang serius. Makna penting dari angka ini adalah 241,9 juta jiwa penduduk Indonesia jangan sampai menjadi beban tetapi harus menjadi modal pembangunan. Penduduk Indonesia harus memperoleh pendidikan agar cerdas, kreatif dan inovatif. Selain itumereka harus pula memperoleh pangan dan asupan gizi yang cukup agar sehat, serta memperoleh pencerahan agama dan budaya agar jujur dan amanah serta menjunjung nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Statistik ini pun memiliki implikasi yang serius terhadap sumberdaya alam dan lingkungan, mulai dari soal penyediaan pangan, energi, alokasi lahan permukiman hingga meningkatnya degradasi sumber daya alam dan lingkungan.
Jumlah penduduk sebesar 241,9 juta jiwa telah menempatkan Indonesia sebagai negara keempat terbanyak jumlah penduduknya setelah Cina, India, dan Amerika Serikat. Indonesia menghadapi berbagai masalah kependudukan seperti ketidakmerataan persebarannya, piramida penduduk yang melebar, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang masih sangat rendah. Persoalan ketidakmerataan penyebaran penduduk cukup serius. Sebagian besar penduduk terkonsentrasi di pulau Jawa (57,49 persen) sementara luaslahannya hanya 7 persen dari luas Indonesia. Amat berbeda dengan penduduk luar Jawakhususnya di Indonesia Timur yang relatif jarang penduduknya dan mendiami lahan yangluas. Dampak lanjutannya adalah terkait masalah ekonomi yakni ketimpangan antar-wilayah, antar-sektor dan kemiskinan. Ketimpangan distribusi : Jawa dan luar Jawa, kota dan perdesaan serta ketimpangan pertumbuhan antara kota-kota metropolitan dan kota menengah kecil memiliki implikasi yang luas terhadap penyediaan infrastruktur, perumahan, fasilitas sosial-ekonomi, dan khususnya terkait dengan penyediaan pangan, kecukupan pemenuhan kebutuhan energi, dan kerusakan lingkungan hidup.

No
Perkiraan penduduk dunia
Tahun
1.
200 juta 
 1992
2.
500 juta 
1998
3.
650 juta 
 2004
4.
1 milyar 
2010

Masalah jumlah penduduk yang besar ini tak hanya sekedar persoalan ekonomi, sosial dan lingkungan melainkan juga terkait dengan persoalan politik dan idiologis. Secara politik jumlah penduduk yang tinggi tanpa adanya langkah penanganan dan antisipasi yang serius khususnya yang terkait dengan pangan, energi, lingkungan, pendidikan, kesehatan, dan lapangan pekerjaan akan berimplikasi pada ancaman kedaulatan bangsa dan ketahanan nasional. Krisis politik yang dibarengi krisis ekonomi, ancaman kelaparan akibat kekurangan pangan & pasokan energi serta lingkungan hidup berpotensi menghancurkan eksistensi sebuah Negara.
Besarnya jumlah penduduk terkait langsung dengan jumlah penyediaan pangan, pertumbuhan penduduk yang sangat pesat menuntut pemenuhan pangan yang sangat besar pula. Dibutuhkan sedikitnya 130kg beras untuk setiap orang per tahunnya. Belum maksimalnya penyediaan pangan yang ditandai dengan besarnya impor kebutuhan pangan saat ini, menjadi pertanda yang serius bagi kita agar memiliki perhatian pada persoalam penyediaan pangan di negara tercinta ini.
Indonesia sebagai negara agraris dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia dan memliki lahan pertanian yang sangat luas. Departemen Pertanian mencatat Indonesia memiliki kurang lebih 30 juta hektar lahan pertanian. Selain itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika juga mencatat curah hujan di Indonesia sangat tinggi dengan rata-rata 2.000-3.000 milimeter per tahun yang mengakibatkan ketersediaan air yang sangat melimpah. Dengan demikian Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara yang terdepan dalam dunia pertanian. Banyak hal yang akan menunjang kemajuan bidang pertanian antara lain benih yang berkualitas, nutrisi tanaman dan pestisida. Dengan tersedianya nutrisi tanaman yang mencukupi dengan kualitas yang baik akan memberikan dampak yang besar bagi para pelaku bidang pertanian, yang nantinya kita semua akan merasakan manfaatnya. Pada tahun 1960, kita semua mulai mengenal Revolusi Hijau yang dipelopori oleh Ford dan Rockefeller Foundation dengan ditemukannya teknologi pupuk Nitrogen, Phosporus, dan Kalium yang memungkinkan membantu perkembangan pertanian. Namun 40 tahun setelah Revolusi Hijau, dunia mulai mencari alternatif lain dibidang pupuk atau nutrisi tanaman yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Angka 241,9 juta jiwa penduduk Indonesia, bukanlah sekadar pertambahan jumlah penduduk yang cukup dipandang sebelah mata. Angka 241,9 juta jiwa bisa berubah jadi bencana yang “mengerikan” apabila kita tak pernah memikirkannya secara serius. Bila kita tak mampu menyediakan pangan yang cukup, maka angka 241,9 juta jiwa akan melahirkan bencana kelaparan masal. Demikian pula jika kita tak mampu menyediakan energi yang cukup karena sumber energi yang makin menipis dan kita tak mampu mengembangkan sumber energi terbarukan maka ancaman kekurangan listrik, kekurangan pupuk akibat takadanya pasokan gas, hingga macetnya seluruh transportasi publik (darat, laut dan udara) akibat mahalnya bahan bakar akan menghadang di depan mata. Bila Negara tak mampu menyediakan infrastruktur kesehatan yang memadai untuk 241,9 juta jiwa rakyat Indonesia, maka ancaman berbagai penyakit medis akan siap menyerang rakyat. Juga, bila pemerintah tidak mampu menyediakan infrastruktur pendidikan yang memadai maka kualitas sumber daya manusia akan rendah dan tidak dapat diharapkan untuk mampu membangun bangsa Indonesia.
Angka 241,9 juta jiwa juga mengharuskan Negara menjaga kelestarian dan daya dukung lingkungan dari tindakan destruktif manusia yang tak bertanggungjawab. Jika tidak maka rakyat Indonesia akan menghadapi bencana ekologis yang dahsyat mulai dari banjir, tsunami, tanah longsor, angin topan hingga ketidakseimbangan iklim akibat hancurnya ekosistem dan biosfir.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar