MANUSIA
SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA
A.
HAKIKAT MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA
Manusia adalah salah
satu makhluk Tuhan di dunia. Kelebihan manusia dibandingan makhluk lain
terletak pada akal budi. Akal budi merupakan pemberian sekaligus potensi dalam
diri manusia yang tidak dimiliki makhluk lain. Anugerah Tuhan akan akal budilah
yang membedakan manusia dari makhluk lain. Akal adalah kemampuan berpikir
manusia sebagai kodrat alami yang dimiliki. Berpikir merupakan perbuatan
operasional dari akal yang mendorong untuk aktif berbuat demi kepentingan dan
peningkatan hidup manusia. Kemampuan berpikir manusia juga digunakan untuk
memecahkan masalah – masalah hidup yang dihadapinya.
Dengan akal
budinya,manusia mampu menciptakan, mengkreasi, memperlakukan, memperbarui,
memperbaiki, mengembangkan, dan meningkatkan sesuatu yang ada untuk kepentingan
hidup manusia. Kepentingan hidup manusia adalah dalam rangka untuk memenuhi
kebutuhan hidup.
Dengan akal budi,
manusia tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga mampu
mempertahankan serta meningkatkan derajatnya sebagai makhluk yang tinggi bila dibandingkan
dengan makhluk lain.
Dengan akal budi,
manusia mampu menciptakan kebudayaan. Kebudayaan pada dasarnya adalah hasil
akal budi manusia dalam interaksinya, baik dengan alam maupun manusia lainnya. Manusia
merupakan makhluk yang berbudaya. Manusia adalah pencipta kebudayaan.
B.
ETIKA DAN ESTETIKA BERBUDAYA
1.
Etika Manusia dalam Berbudaya
Secara etimologis, etika adalah ajaran tentang
baik-buruk, yang diterima umum tentang sikap,
perbuatan, kewajiban, dan sebagainya. Etika bisa diartikan juga dengan moral,
akhlak, atau kesusilaan. Etika berkaitan dengan masalah nilai, karena etika
pada pokoknyamembicarakan masalah-masalah yang berkaitan dengan predikat nilai
susila, atau tidak susila, baik dan buruk.
Norma
etik berhubungan dengan manusia sebagai individu karena menyangkut kehidupan
pribadi. Norma etik ditujukan kepada umat manusia agar terbentuk kebaika akhlak
pribadi guna penyempurnaan manusia dan melarang manusia melakukan perbuatan
jahat.
Asal
atau sumber norma etik adalah dari manusia sendiri yang bersifat otonom dan
tidak ditujukan kepada sikap lahir, tetapi ditujukan kepada sikap batin
manusia. Batinnya sendirilah yang mengancam perbuatan yang melanggar norma
kesusilaan dengan sanksi. Kalau terjadi pelanggaran norma etik, misalnya
pencurian atau penipuan, maka akan timbullah dalam hati nurani si pelanggar
atau penipuan, rasa malu, takut, dan merasa bersalah.
Norma
etik atau norma moral menjadi acuan manusia dalam berperilaku. Dengan norma
etik, manusia bisa membedakan mana perilaku yang baik dan mana perilaku yang
buruk. Manusia yang beretika berarti perilaku manusia itu baik sesuai dengan
norma-norma etik.
Manusia
yang beretika akan menghasilkan budaya yang memiliki nilai-nilai etik pula.
Budaya yang memiliki nilai-nilai etik adalah budaya yang mampu menjaga,
mempertahankan, bahkan mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia itu
sendiri.
2.
Estetika Manusia dalam Berbudaya
Estetika dapat dikatakan sebagai teori tentang
keindahan atau seni. Estetika berkaitan dengan nilai indah-jelek (tidak indah).
Jika estetika dibandingkan dengan etika, maka etika berkaitan dengan nilai
tentang baik-buruk, sedangkan estetika berkaitan dengan hal yang indah-jelek.
Budaya yang estetika berarti budaya itu memiliki
unsur keindahan. Apabila nilai etik bersifat universal, dalam arti bisa
diterima banyak orang, namun nilai estetika amat subjektif dan partikular.
Oleh karena subjektif, nilai estetika tidak bisa
dipaksakan pada orang lain. Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk mengakui
keindahan sebuah lukisan sebagaimana pandangan kita. Nilai-nilai estetika lebih
bersifat perasaan, bukan pernyataan.
C.
MEMANUSIAKAN MANUSIA
Manusia harus memiliki prinsip, nilai, dan rasa
kemanusiaan yang melekat dalam dirinya. Manusia memiliki perikemanusiaan,
tetapi binatang tidak dapat dikatakan memiliki perikebinatangan. Hal ini karena
binatang tidak memiliki akal budi, sedangkan manusia memiliki akal budi yang
bisa memunculkan rasa atau perikemanusiaan. Perikemanusiaan inilah yang
mendorong perilaku baik sebagai manusia.
Memanusiakan manusia berarti perilaku manusia untuk
senantiasa menghargai dan menghormati harkat dan derajat manusia lainnya.
Memanusiakan manusia adalah tidak menindas sesama, tidak menghardik, tidak
bersifat kasar, tidak menyakiti, dan perilaku-perilaku buruk lainnya.
Memanusiakan manusia berarti pula perilaku
memanusiakan antarsesama. Memanusiakan manusia memberi keuntungan bagi diri
sendiri maupun orang lain. Bagi diri sendiri akan menunjukan harga diri dan
nilai luhur pribadinya sebagai manusia. Sedangkan bagi orang lain akan
memberikan rasa percaya, rasa hormat, kedamaian, dan kesejahteraan hidup.
Sebaliknya, sikap tidak manusiawi terhadap manusia
lain hanya akan merendahkan harga diri dan martabatnya sebagai manusia yang
sesungguhnya makhluk mulia. Sedangkan bagi orang lain sebagai korban tindakan
yang tidak manusiawi akan menciptakan penderitaan, kesusahan, ketakutan,
perasaan dendam, pertentangan yang terjadi di berbagai belahan dunia adalah
karena manusia belum mampu memanusiakan manusia lain, dan sekelompok bangsa
menindas bangsa lain. Penjajahan atau kolonialisme adalah contoh perilaku suatu
bangsa menindas bangsa lain. Penjajahan tidak sesuai dengan perikemanusiaan.
Dewasa ini, perilaku tidak manusiawi dicontohkan
dengan adanya kasus kekerasan terhadapan para pembantu rumah tangga. Misalkan
seorang pembantu disiksa, tidak diberi upah, dikurung dalam rumah, dan sebagainya.
Para majikan telah melakukan tindakan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip
kemanusiaan.
Sikap dan perilaku memanusiakan manusia didasarkan
atas prinsip kemanusiaan yang disebut the
mankind is one. Prinsip kemanusiaan tidak membeda-bedakan kita dalam
memperlakukan orang lain atas dasar warna kulit, suku, agama, ras, asal, dan
status sosial ekonomi. Kita tetap harus manusiawi terhadap orang lain, apapun
latar belakangnya, karena semua manusiawi adalah makhluk Tuhan yang sama harkat
dan martabatnya. Perilaku yang manusiawi atau memanusiakan manusia adalah
sesuai dengan kodrat manusia. Perilaku yang tidak manusiawi pasti akan
mendatangkan kerusakan hidup manusia.
D.
PROBLEMATIKA KEBUDAYAAN
Dalam rangka pemenuhan hidupnya manusia akan
berinteraksi dengan manusia lain, masyarakat berhubungan dengan masyarakat
lain, demikian pula terjadi hubungan antarpersekutuan hidup manusia dari waktu
ke waktu dan terus berlangsung sepanjang kehidupan manusia. Kebudayaan yang ada
ikut pula mengalami dinamika seiring dengan dinamika pergaulan hidup manusia
sebagai pemilik kebudayaan. Berkaitan dengan hal tersebut kita mengenal adanya
pewarisan kebudayaan, perubahan kebudayaan, dan penyebaran kebudayaan.
1.
Pewarisan kebudayaan
Pewarisan kebudayaanadalah proses pemindahan, penerusan,
pemilikan, dan pemakaian kebudayaan dari generasi ke generasi secara
berkesinambungan. Pewarisan budaya bersifat vertikal artinya budaya diwarisakan
dari generasi terdahulu kepada generasi berikutnya untukdigunakan, dan
selanjutnya diteruskan kepada generasi yang akan datang.
Pewarisan kebudayaan dapat dilakukan melalui
enkulturasi dan sosialisasi. Enkulturasi atau pembudayaan adalah proses
mempelajari dan menyesuaikan pikiran dan sikap individu dengan sistem norma,
adat, dan peraturan hidup dalam kebudayaannya. Proses enkuluturasi dimulai
sejak dini, yaitu masa kanak-kanak, bermula dari lingkungan keluarga ,
teman-teman sepermainan, dan masyarakat luas. Sosialisasi atau proses
pemasyarakatan adalah individu menyesuaikan diri dengan individu lainnya dalam
masyarakat.
Dalam hal pewarisan budaya bisa muncul masalah
antara lain: sesuai atau tidaknya budaya warisan tersebut dengan dinamika
masyarakat saat sekarang, penolakan generasi penerima terhadap warisan budaya tersebut,
dan munculnya budaya baru yang tidak lagi sesuai dengan budaya warisan.
2.
Perubahan Kebudayaan
Perubahan kebudayaan adalah perubahan yang terjadi
sebagi akibat adanya ketidaksesuaian di antara unsur-unsur budaya yang saliang
berbeda sehingga terjadi keadaan yang fungsinya tidak serasi bagi kehidupan.
Perubahan kebudayaan mencakup banyak aspek, baik bentuk, sifat perubahan,
dampak perubahan, dan mekanisme yang dilaluinya. Perubahan kebudayaan di
dalamnya mencakup perkembangan kebudayaan. Pembangunan dan modernisasi termssuk
pula perubahan kebudayaan.
Perubahan kebudayaan yang terjadi bisa memunculkan
masalah, antara lain perubahan akan merugikan manusia jika perubahan itu
bersifat regress (kemunduran) bukan progree (kemajuan); perubahan bisa
berdampak buruk atau menjadi bencana jika dilakukan melalui revolusi,
berlangsung cepat, dan diluar kendali manusia.
3.
Penyebaran Kebudayaan
Penyebaran kebudayaan atau difusi adalah proses
menyebarnya unsur-unsur kebudayaan dari suatu kelompok ke kelompok lain atau
suatu masyarakat lain. Kebudayaan kelompok masyarakat di suatu wilayah bisa
menyebar ke masyarakat wilayah lain. Misalnya, kebudayaan dari masyarakat Barat
(negara-negara Erope) masuk dan memengaruhi kebudayaan Timur (bangsa Asing dan
Afrika). Globalisasi budaya bisa dikatakan pula sebagai penyebaran suatu
kebudayaan secara meluas.
Penyebaran kebudayaan (difusi) bisa menimbulkan
masalah. Masyarakat penerimaan akan kehilangan nilai-nilai budaya lokal sebagai
akibat kuatnya budaya asing yang masuk. Contoh globalisasi budaya yang
bersumber dari kebudayaan Barat pada era sekarang ini adalah masuknya
nilai-nilai budaya global yang dapat memberi dampak negatif bagi perilaku
sebagian masyarakat Indonesia. Misalnya, pola hidup konsumtif, hedonisme,
pragmatis, dan induvidualistik. Akibatnya, nilai budaya bangsa seperti rasa
kebersamaan kekeluargaan lambat laun bisa hilang dari masyarakat Indonesia.
Pada dasarnya, difusi merupakan bentuk kontak
antarkebudayaan. Selain difusi, kontak kebudayaan dapat pula berupa akulturasi
dan asimilasi. Akulturasi berarti pertemuan antara dua kebudayaan atau lebih
yang berbeda. Akulturasi merupakan kontak antarkebudayaan, namun masing-masing
masih memperlihatkan unsur-unsur budayanya.Asimilasi berarti peleburan
antarkebudayaan yang bertemu. Asimilasi terjadi karena proses yang berlangsung
lama dan intensif antara mereka yang berlainan latar belakang ras, suku,
bangsa, dan kebudayaan. Pada umumnya, asimilasi menghasilkan kebudayaan baru.
Sumber:
Judul Buku : Ilmu Sosial & Budaya Dasar
Penulis : Drs. Herimanto, M.Pd., M.Si.
Penulis : Drs. Herimanto, M.Pd., M.Si.
Winarno,
S.Pd., M.Si.
Penerbit : PT
Bumi Aksara
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2011
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2011